Bisakah metode pendidikan non Islam digunakan untuk Pendidikan Islam dengan hanya mengganti konten (atau isi materi) nya saja?
Sehingga setelah “di-Islam-kan” ditambahkan nama “Islami” atau nama lain yang bermakna Islam, seperti “Mo******i Islami”, “Se***a Sunnah”, “Spiritual E**”, dan nama metode-metode yang telah “di-Islam-kan” lainnya.
Perlu diketahui bahwa terdapat perbedaan yang mendasar antara metode Pendidikan Islam dan non-Islam. Perbedaannya sangat mendasar sekali.
Mereka mengatakan bahwa pusat berpikir manusia ada di otak atau akal, dan dengan itu metode mendidiknya hanya sebatas logika dengan memahamkan dan membiasakan saja.
Bukankah dengan hal itu yang bisa terdidik hanyalah akal dan fisik saja?
Kalau metodenya hanya dipahamkan-dibiasakan dan mengganti kontennya saja, bukankah dengan cara itu monyet dapat dilatih melakukan gerakan sholat?
Lalu apa bedanya pendidikan manusia dan pelatihan monyet?
Dan juga bukankah dengan cara itu burung beo dapat dilatih untuk mengucapkan basmalah?
Lalu apa bedanya pendidikan manusia dan pelatihan burung beo?
Ketahuilah yang berbeda dalam Islam bahwa pusat berpikir ada pada pemimpin jiwa, yaitu hati.
Memang benar ...
Mendidik fisik dengan dibiasakan,
Mendidik akal dengan dipahamkan,
Namun ....
Mendidik hati tidak bisa dengan dipahamkan konten-konten saja.
Mendidik hati tidak bisa dengan pembiasaan yang memaksa.
Hati hanya bisa dididik dengan disenangkan yang tak terlogika.
Itulah Pendidikan Islam
Yang tak tergantikan dengan metode apapun dan dimodif bagaimanapun.
Bahkan tak tergantikan dengan metode yang “di-Islam-kan” sekalipun.
Karena Pendidikan Islam memiliki “izzah” (kemuliaan) yang tak tertandingi oleh metode manapun.
Oleh: Abdul Kholiq
Sekolah Karakter Imam Syafi’i (SKIS) Semarang