Sep 02,2024 • Abdul Kholik

Bakat 'Adaalah

cover thumbnail

A. Definisi Bakat 'Adaalah
Bakat 'adaalah adalah bakat yang cenderung bersikap tengah-tengah, tepat dalam menempatkan sesuatu pada tempatnya tanpa berlebihan dan tidak kurang.

B. Teladan dalam Mengamalkan Bakat 'Adaalah

Praktek tentang 'adaalah telah dicontohkan para pendahulu yang shalih, yang dapat dijadikan teladan dalam kehidupan sehari-hari.

Pertama. Keadilan Rasulullah صلى الله عركة

a. Rasulullah العلمية memenuhi tuntutan keadilan dari seorang sahabat yang bernama Sawad bin Ghaziyyah, ketika menyiapkan pasukan perang Badar. Kisah tuntutan keadilan ini dikabarkan oleh Asyyakh dari kaumnya, dia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَدَّلَ صُفُوفَ أَصْحَابِهِ يَوْمَ بَدْرٍ، وَفِي يَدِهِ قدْحٌ يُعَدِّلُ بِهِ الْقَوْمَ، فَمَرَّ بِسَوَادِ بْنِ غَزِيَّةَ، حَلِيفِ بَنِي عَدِي بْنِ النَّجَّارِ قَالَ ابْنُ هِشَامٍ : يُقَالُ، سَوَّادٌ، مُثَقَّلَةٌ، وَسَوَادٌ فِي الْأَنْصَارِ غَيْرُ هَذَا، مُخَفَّفٌ - وَهُوَ مُسْتَنْتِلٌ مِنْ الصَّفْ قَالَ ابْنُ هِشَامٍ: وَيُقَالُ: مُسْتَنْصِلٌ مِنَ الصَّفْ فَطْعِنَ فِي بَطْنِهِ بِالْقِدْحِ، وَقَالَ: اسْتَوِ يَا سَوادُ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَوْجَعْتَنِي وَقَدْ بَعَثَكَ اللهُ بِالْحَقِّ وَالْعَدْلِ، قَالَ: "فَأَقِدْنِي". فَكَشَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ بَطْنِهِ، وَقَالَ: اسْتَقِدْ ، قَالَ: فَاعْتَنَقَهُ فَقَبْلَ بَطْنَهُ: فَقَالَ: "مَا حَمَلَكَ عَلَى هذا يَا سَوَّادُ ؟ قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ ، حَضَرَ مَا تَرَى، فَأَرَدْتُ أَنْ يَكُونَ آخِرُ الْعَهْدِ بِكَ أَنْ يَمَسُّ جِلْدِي جِلْدَكَ. فَدَعَا لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِخَيْرٍ،
وَقَالَهُ لَهُ

"Pada hari berlangsungnya pertempuran ketika sedang persiapan pasukan, Nabi العلم mengatur barisan dan meluruskannya, seperti ketika meluruskan shaf-shaf shalat. Saat tiba di tempat Sawad, beliau melihat kalau posisinya agak bergeser, tidak lurus dengan anggota pasukan lainnya. Beliau memukul perut Sawad dengan anak panah sambil bersabda, 'Luruskan barisanmu, wahai Sawad. Tetapi tanpa diduga oleh siapa pun, tiba-tiba Sawad berkata, Wahai Rasulullah

engkau telah menyakitiku, maka berilah kesempatan kepadaku untuk membalasmu (meng-qishashmu). Para sahabat terkejut, dan sebagian besar marah dengan ucapan Sawad ini, apalagi Umar bin Khaththab. Nabi sendiri sebenarnya terkejut dengan sikapnya itu, tetapi beliau menenangkan mereka. Sambil menyerahkan anak panah yang dipakai memukul, beliau bersabda, 'Kalau begitu, balaslah wahai Sawad." Sambil menerima anak panah dari tangan Nabi علية Sawad berkata, "Wahai Rasulullah, engkau memukulku di perut yang tidak tertutup kain, karena itu hendaklah engkau singkapkan baju engkau." Para sahabat makin marah dengan sikap dan kemauan Sawad yang tidak sepatutnya ini. Tetapi Nabi tetap menenangkan me 140/557 memenuhi permintaan Sawad. Setelah beliau menyingkapku... beliau, Sawad segera melemparkan anak panah tersebut dan memeluk perut Nabi تعلية dengan erat sambil menangis bahagia, sekaligus meminta maaf kepada beliau. Sekali lagi Nabi dibuat terkejut dengan tindakan Sawad yang tidak tersangka-sangka ini. Beliau berkata, 'Apa yang kau lakukan ini, wahai Sawad?" Sawad berkata, "Inilah yang aku inginkan, ya Rasulullah, telah lama aku berharap kulitku yang hina ini bisa bersentuhan dengan kulit engkau yang mulia, dan aku bersyukur bisa melakukannya, semoga ini menjadi saat-saat terakhir dalam hidupku bersama engkau. Nabi tersenyum mendengar jawaban Sawad ini, karena apa yang dilakukannya adalah ekspresi kecintaannya kepada Nabi . Segera saja beliau mendoakan kebaikan dan ampunan bagi Sawad."

Meskipun terhadap orang yang di bawah beliau المعركة tuntutan keadilan tetap beliau tunaikan.

b. Rasulullah tetap menegakkan hukum meskipun terhadap seorang anggota keluarga bangsawan.

Dari Aisyah, dia berkata,

أَنَّ قُرَيْشًا أَهَمَّهُمْ شَأْنُ الْمَرْأَةِ الَّتِي سَرَقَتْ في عَهْدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم في غَزْوَةِ الْفَتْحِ فَقَالُوا مَنْ يُكَلِّمُ فِيهَا رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالُوا وَمَنْ يَجْتَرِي عَلَيْهِ إِلَّا أَسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ حِبُّ رَسُولِ الله صلى الله عليه وسلم . فَأْتِيَ بِهَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فَكَلَّمَهُ فِيهَا أَسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ فَتَلَوْنَ وَجْهُ

HR. Abu Nu'aim, dalam Ma'rifatus shahaabah, 3/1404

رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم فقال " أتَشْفَعُ في حَدَّ مِنْ حُدُودِ اللَّهِ " . فَقَالَ لَهُ أَسَامَةُ اسْتَغْفِرْ لِي يَا رَسُولَ اللهِ . فَلَمَّا كَانَ الْعَشِيُّ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَاخْتَطَبَ فَأَثْنَى عَلَى اللهِ بِمَا هُوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ " أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّمَا أَهْلَكَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ أَنَّهُمْ كَانُوا إِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الشَّرِيفُ تَرَكُوهُ وَإِذَا سَرَقَ فِيهِمُ الضُّعِيفُ أَقَامُوا عَلَيْهِ الْحَدَّ وَإِنِّي وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ أَنَّ فَاطِمَةَ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَرَقَتْ لَقَطَعْتُ يَدَهَا " . ثُمَّ أَمَرَ بِتِلْكَ الْمَرْأَةِ الَّتِي سَرَقَتْ فَقُطِعَتْ يَدُهَا

"Bahwa orang-orang Quraisy pernah digemparkan oleh kasus seorang wanita dari Bani Mahzum yang mencuri di masa Rasulullah معبرة tepatnya ketika masa perang Al Fath. Lalu mereka berkata, "Siapa yang bisa berbicara dengan Rasulullah siapa yang lebih berani selain Usamah bin Zaid, orang yang dicintai Rasulullah ص العمرة Maka Usamah bin Zaid pun menyampaikan kasus tersebut kepada Rasulullah اللعبة hingga berubahlah warna waj Rasulullah. Lalu Beliau bersabda, "Apakah kamu hendak memi syafa'ah (pertolongan) terhadap seseorang dari hukum Allah?" Usaman berkata, 'Mohonkan aku ampunan, wahai Rasulullah. Kemudian, sore harinya Rasulullah berdiri seraya berkhutbah. Beliau memuji Allah dengan pujian yang layak bagi-Nya, kemudian bersabda, 'Amma ba'du. Sesungguhnya sebab hancurnya umat sebelum kalian adalah bahwa mereka itu jika ada pencuri dari kalangan orang terhormat, mereka biarkan. Dan jika ada pencuri dari kalangan orang lemah, mereka tegakkan hukum pidana. Adapun aku, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, jika Fatimah bintu Muhammad mencuri maka akan aku potong tangannya. Lalu Rasulullah memerintahkan wanita yang mencuri tersebut untuk dipotong tangannya.2

141/557

Kedua. Keadilan Umar bin Khaththab

a. Dari Atha, dia berkata,

كان عمر بن الخطاب رضي الله عنه يأمر عماله أن يوافوه بالموسم، فإذا اجتمعوا قال أيها الناس، إني لم أبعث عمالي عليكم ليصيبوا من أبشاركم ولا من أموالكم، إنما بعثتهم ليحجزوا بينكم، وليقسموا فيئكم بينكم. فمن فعل به غير ذلك فليقم. فما قام أحد إلا رجل واحد قام، فقال: يا أمير المؤمنين إن عاملك فلانا ضريني مائة سوط. قال: فيم ضريته ؟ قم فاقتص منه. فقام

HR. Al Bukhari 3475. Muslim 1688

عمرو بن العاص فقال: يا أمير المؤمنين إنك إن فعلت هذا يكثر عليك ويكون سنة يأخذ بها من بعدك. فقال: أنا لا أقيد وقد رأيت رسول الله يقيد من نفسه. قال: فدعنا فلنرضه. قال: دونكم فأرضوه فافتدى منه بمائتي دينار.

كل سوط بدينارين

"Umar bin Khaththab memerintahkan para pegawainya dari berbagai daerah untuk menemuinya setiap musim. Ketika orang-orang berkumpul, maka Umar berkata, 'Wahai manusia, sesungguhnya aku mengutus para pegawaiku bukan untuk menyiksa diri kalian dan mengambil harta-harta kalian, tetapi aku mengutus mereka hanyalah untuk mencegah sesuatu terjadi di antara kalian dan membagikan harta rampasan perang di antara kalian. Barang siapa yang tidak melakukan ini maka silahkan berdiri. Maka tidak ada yang berdiri kecuali seorang laki-laki dan berkata, 'Wahai Amirul mukminin, sesungguhnya pegawaimu yang bernama fulan telah memukulku dengan seratus cambukan. Umar bertanya kepada pegawainya, 'Mengapa kamu memukulnya? berdirilah dan laksanakan pembalasan. Maka Amr bin Ash berdiri dan berkata, Wahai Amirul Mukminin, jika engkau lakukan ini maka akan banyak orang yang datang kepadamu dan akan menjadi tradisi bagi orang-orang setelahmu.' Umar berkata, 'Aku tidak meminta dia melakukan pembalasan, sementara aku melihat Rasulullah telah meminta dirinya untuk dibalas. Dia berkata, 'Biarkanlah kami untuk menjadikan dia ridha. Maka Umar berkata, 'Silahkan jika dia ridha. Lalu mereka berhasil menjadikan orang yang mengadu tadi ridha. Kemudian pegawai yang memukul tadi menebus dengan dua ratus dinar, dengan

perhitungan setiap cambukan diganti dengan dua dinar.

b. Ketika Umar bin Khaththab diberi mahkota Kisra dan pilar- pilarnya, dia mengatakan,

إِنَّ الَّذِي أَذًى هَذَا لَأمِينٌ، فَقَالَ لَهُ رَجُلٌ: أَنَا أُخْبِرُكَ ، أَنْتَ أَمِينُ اللهِ، وَهُمْ يُؤَدُّونَ

إِلَيْكَ مَا أَدَّيْتَ إِلَى اللهِ، فَإِذَا رَتَعْتَ رَبَّعُوا، قَالَ: صَدَقْتَ

"Sesungguhnya orang yang membawa harta rampasan perang ini kemari benar-benar tepercaya. Maka seseorang berkata kepada Umar, 'Aku katakan kepadamu bahwa kamu adalah kepercayaan Allah. Mereka menyampaikan harta rampasan ini kepadamu selama kamu (jujur) menyampaikannya kepada Allah. Jika kamu (berkhianat) dengan

HR. Ibnu Sa'ad, dalam Ath Thobogoatul Kubraa, 3/293

mementingkan diri sendiri akan harta itu, niscaya mereka pun akan mementingkan diri dengan harta itu. Umar berkata, 'Benar sekali ucapanmu, kemudian Umar pun membagi-bagikan harta itu." Ketiga. Keadilan Ali bin Abi Thalib رواية عن

a. Sahabat yang mendapatkan gelar "adil" adalah Ali bin Abi Thalib Rasulullah مرورا bersabda,

أرافُ أُمَّتِي بِأُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ .... وَأَقْضَاهُمْ عَلِيٌّ

"Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar dan yang paling adil adalah Ali.

b. Dari Ali bin Abi Tholib, dia berkata, "Rasulullah

حلال رسام mengutusku ke Yaman, maka aku berkata kepada beliau, 'Wahai Rasulullah, engkau mengutusku kepada suatu kaum yang lebih tua daripada aku agar aku memutuskan perkara di antara mereka.' Maka Rasulullah صاع رسام bersabda,

اذْهَبْ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى سَيُثَيْبُ لِسَانَكَ وَيَهْدِي قَلْبَكَ

'Pergilah, karena sesungguhnya Allah akan meneguhkan lisanmu dan membimbing hatimu."

C. Kepribadian Orang yang Berbakat 'Adaalah

1. Orang yang berbakat 'adaalah memiliki sifat antara lain:

Tidak berat sebelah itu penting baginya.

Benar-benar sadar akan perlunya untuk memperlakukan semua

orang secara adil, apapun jabatan mereka, sehingga tidak berpihak pada kepentingan satu orang tertentu saja.

Kesetaraan adalah hal yang diperjuangkannya.

2. Orang berbakat 'adaalah akan mengatakan kepada dirinya sendiri:

Aku lebih tertarik dalam kelompok daripada individual

Aku akan meredam perbedaan dan menumbuhkan kesamaan

Aku memiliki aturan dan Kebijakan

HR. Al Baihaqi, dalam As Sunanul Kubraa, 13033

Dishahihkan oleh Al Albani, dalam Shohihul jomi, 868 HR. Ahmad 1/88, An Nasa'i 35

Aku membutuhkan prosedur operasional standar (aturan baku/SOP) sebagai pedomanku.

Aku suka mengulang-ulang sesuatu dengan cara yang persis sama, yang penting sesuai aturan yang ada.

Aku tidak suka ada seseorang yang dispesialkan dari yang lain.

Aku bersemboyan bahwa aturan lebih penting daripada relasi dan hasil.

Aku dijuluki sebagai orang yang monoton

3. Kepribadian pada anak-anak:

Anak patuh mengikuti aturan yang sudah ditetapkan dan tidak suka. adanya pembedaan hak dalam hubungan pertemanan.

D. Profesi yang Sesuai dengan Bakat 'Adaalah

Bakat ini merupakan salah satu bakat yang banyak terdapat pada peran: hakim, petugas pembinaan keluarga, konselor masalah keluarga, mediator, petugas kontrol terhadap kesesuaian atas standar seperti kepatuhan kepada aturan, quantity surveyor, petugas commisioning atau peran yang bisa memiliki kekuatan untuk menyamakan aturan main dan peran lainnya yang terkait dengan sifat adil.

E. Jurusan Studi yang Sesuai dengan Bakat 'Adaalah

Jurusan studi yang sesuai untuk bakat adaalah antara lain: Hukum Islam, Syariah, Konseling keluarga, Hukum Publik, Hukum Perdata, Hukum Internasional, Ilmu Hukum, Hukum Pidana, atau jurusan lainnya yang terkait dengan keadilan.

F. Potensi Penyimpangan Bakat 'Adaalah

Orang yang memiliki bakat paling dominan pada bakat 'adaalah, jika berlebihan dapat terjerumus pada sifat tercela jahl )الجهل( / kebodohan, yaitu ketiadaan pengetahuan sehingga menganggap yang dilakukan adalah adil, tetapi sebenarnya yang dilakukannya bukanlah keadilan.

Sedangkan orang yang bakat terlemahnya adalah adaalah, jika meremehkan akan berpotensi terjebak pada sifat tercela zhulm

)القلم(/zhalim, yaitu berbuat tidak adil atau berat sebelah dalam bersikap dan bertindak sehingga merugikan orang atau pihak lain.

145/557

G. Memperbaiki Bakat 'Adaalah yang Menyimpang

Sifat tercela jahl )الجهل( / kebodohan yang ditimbulkan akibat berlebihan dalam bakat 'adaalah, dapat diperbaiki dengan menguatkan bakat syajaa'ah, munaafasah, dan ghairah.

Sedang sifat tercela zhulm )الكلم/zhalim yang ditimbulkan akibat meremehkan bakat adaalah, dapat diperbaiki dengan menguatkan bakat 'adaalah itu sendiri dan bakat lainnya, yaitu antara lain bakat itsaar, rahmah, shabr, hilm, anaah, dan amaanah.

H. Cara Menghadapi Orang yang Berbakat 'Adaalah

1. Jangan bersikap kepadanya atau memperlakukan orang lain dihadapannya dengan perlakuan spesial, karena baginya semua orang harus diperlakukan sama.

2. Mintalah pendapatnya tentang apa yang akan anda lakukan tentang pembagian tugas kepada anggota tim, pembagian bonus atau reward hasil kerja, atau hal lainnya yang membutuhkan prinsip keadilan.

3. Ajaklah dia ikut terlibat pada kegiatan yang terkait dengan hal tersebut.

1. Perbedaan Bakat 'Adaalah dengan Bakat lainnya

Sifat

'Adaalah

Rifq

Seimbang itu ada di tengah-tengah

'Adaalah

Seimbang itu ada di mana pun

Meletakkan sesuatu pada tempat yang tepat

Kitmaanus sirri

Menyimpan sesuatu pada tempat yang tepat

'Adaalah

Tidak suka sesuatu yang dispesialkan

Mahabbah

Karakteristik

Menyukai sesuatu yang dispesialkan



Other News You
Might Be Interested

Setiap orang itu berbakat, karena setiap manusia terlahir dalam keadaan membawa potensi hebat yang dapat dijadikan sebagai bekal bagi dirinya untuk mengemban misi besar dalam hidupnya.

- Abdul Kholik